Suatu Malam di Solo

Hai, welcome back. kali ini gw bakal ngepost tentang pengalaman temen gw yang bernama Jundi ketika ia tengah menghadapi nasib bersama seorang temannya yang bernama Muzayyin.

cerita ini bakal make sudut pandang pertama (aku-an), dan tokohnya adalah Jundi sendiri, tapi gw yang bakal nulis karena gw yang punya blog sedangkan Jundi yang punya cerita.
Paham ga?
Jadi tokohnya Jundi, yang nulis gw, dan bakal make gaya penulisan yang gw banget. Sama kayak post-post sebelumnya.
Okey, here we go.


sederhana, tapi nikmat


Cerita ini terjadi pada tanggal 30 Februari 2012 pada pukul 22.19 lebih 17 detik. Aku (Jundi, 18 tahun. Warga kota Magelang) dan seorang temanku (Muzayyin, 19 tahun, warga pendatang dari Samarinda) sedang berjalan-jalan menikmati suasana malam Kota Solo. Malam itu lumayan dingin, angin bertiup sepoi-sepoi. Rambutku berantakan dibuatnya. Malam ini Solo terlihat sangat orange karena memang lampu jalannya berwarna demikian yang berpadu dengan pancaran sinar rembulan yang syahdu melenakan.

. . . . .

wait, wait, wait... Kenapa gaya penulisannya gini? Ga gw banget. Olrait (dibacanya alright, bukan oralit), mulai baris ini, gw bakal nulis seperti biasanya.
Jadi pada malam itu kita lagi jalan-jalan di Solo (kalo ga' salah di deket Sriwedari. Kalo salah berarti bukan disitu) setelah kehabisan bis jurusan Solo-Tawangmangu (maklum, lagi pengen liburan akhir pekan) dan terpaksa menunggu datangnya bis besok pagi-pagi mruput. (Kalo kalian bertanya bagaimana nanti kami tidurnya, itu juga yang lagi kami pertanyakan.)

Berhubung malam itu dingin, aku berencana ngajak Muzayyin buat ngangetin badan dengan cara membakar diri ngopi di hik.

'Zen,' kata gw secara nggantung. Sengaja biar berkesan misterius. Zen itu panggilan gw buat Si Muzayyin karena menurut gw, nama Muzayyin itu kepanjangan dan susah diomongkan.

'Opo?'  Jawabnya. Walaupun Muzayyin orang Samarinda, dia sekarang lagi belajar bahasa Jawa karena rencananya dia pengen kuliah di Solo. Biar ga dibohongin penjual di pasar, gitu katanya. Dasar kere. Hehe. Tapi dia sayangnya baru bisa bahasa Jawa ngoko (bahasa antar teman atau yang kastanya lebih rendah - level penghormatan = normal kebawah). Itu pun cuma beberapa kosa kata sederhana kayak: iyo, ora, opo, piye, dll..

*back to story*

'Dingin ya?'  gw masih mencoba menguatkan kesan misterius dengan tetap memakai kalimat yang nggantung.

'Jun, aku takut lho. Ojo-ojo kowe mau ngajakin aku yang ora-ora..'

'MBAHMU KIPER!!!' Sialan. Dia kebawa suasana malam.. 'Aku i pengen ngajak ngopi di hik! Kok kowe malah ngeres..'

'Oh..' Katanya dengan muka polos. 'Lha mana hik-e?'

Mataku menyipit mengobservasi medan sekitar dan di arah jam 9, di seberang jalan, target ditemukan. Sebuah hik kecil berdiri di bawah jembatan penyeberangan di samping Sriwedari.

'Itu, Zen! Target's sighted. Let's go, follow me!' Gw ganti mode dari mode sok-misterius jadi sok-komandan-perang.

Singkat cerita si Muzayyin sudah kuliah jurusan Tekhnik Komputer.
WOY! KEJAUHAN NYINGKAT CERITANYA!

Singkat cerita kami udah di hik tersebut. Nah, di sinilah inti ceritanya. Setelah memesan dua kopi panas lalu ngobrol ngalur-ngidul sambil sesekali mencomoti gorengan di hik itu, pak penjual datang membawa dua gelas teh panas di tangannya. Aneh. Kami kan ga mesen teh.. dan pula, ga ada orang laen disini.. Ada beberapa kemungkinan atas kejadian ini: (Sok Detektive Conan)



A.      Dia lupa apa yang kami pesan,

B.      Dia mau ngasih bonus, ini yang gw harapkan,

C.      Dia pengen ngikut ngobrol lalu meminum the itu sendiri.


Manakah jawaban yang tepat? Untuk melihatnya, mari kita lanjutkan ceritanya.

Sang penjual mendatangi kami dari arah tempat duduknya Si Muzayyin  dengan dua gelas teh di tangannya. 'Mas e wau mesen teh anget nggih?' Tanyanya dengan bahasa Jawa Kromo (bahasa penghormatan. Level penghormatan = menengah keatas) dan senyum ramah tersungging di bibirnya. (ternyata jawaban A yang benar!)

Muzayyin masih anteng aja dengan gorengannya.

'Mas e wau mesen teh anget nggih?' Ia mengulang untuk yang kedua kalinya dan tetap dengan senyum.

'Zen, ditanya tuh!' Kataku memberitahu Si Zen.

'Hah?' Katanya sambil menengok ke pak penjual dengan muka blo'on semi polos.

'Mas e wau mesen teh anget nggih?' Ini yang ketiga kalinya ia mengulang pertanyaannya. Masih tetap tersenyum. Gila. Memang harus sabar ngurusin orang kayak Muzayyin ini.

Si Muzayyin masih diem dengan muka polosnya. Lalu dia menoleh ke arahku. 'Jun, artinya apaan?'
GUBRAK! Ternyata dia ga paham bahasa kromo. Gw lupa -.-

'Kowe tadi pesen teh nggak?' Gw menjelaskan.

'Oh..' Katanya dengan muka ala Steve lagi menemukan petunjuk blue (Nickelodeon: Blue's Clues)
Lalu dia menolah lagi ke arah penjual yang -menurut gw- sangat sabar itu.
Lalu apa yang terucap oleh Muzayyin, saudara-saudara? Yang dia ucapkan adalah:

'Oh, Ora i'


. .  . . . . . . . . .

ZENONG!!! BISA-BISANYA KOWE DENGAN POLOSNYA MENJAWAB PERTANYAAN DARI PAK PENJUAL YANG DENGAN SOPANNYA MENANYAI MAKEK BAHASA KROMO DAN KOWE JAWAB 'ORA I!!'     NGOKO, ZEN, NGOKO! GIMANA COBA PERASAANNYA PAK PENJUAL, HAH? PIYE??

Tapi apa yang terjadi saudara-saudara? Pak penjual malah tersenyum alih-alih nyiramin teh panasnya tadi ke mukanya Muzayyin biar melepuh.. 'Masnya bukan orang Solo asli ya?' Dia tetep senyum. Anjirr... Sabar bener ni bapak.

'Hehe.. Iyo Pak.. Kok tahu?' Cengir Si Zen.


'Oh, saya udah biasa kok sama orang-orang dari luar kota atau malah dari luar negeri, Mas.' Jabar pak penjual.

'Berarti bisa ngomong Inggris no pak?' Sahutku.

'Yes I am. but it's just a little.' Anjir.. Keren tenan Pakdhe yang satu ini.

'Oh, iya, ini tehnya diminum saja. Gratis.'

'Wah, makasih lho, pak..' (Jawaban B juga benar!)

Akhirnya kita ngobrol panjang lebar ngalor ngidul dengan bapak tadi yang ternyata bernama Pak Agus ini. (
Jawaban C ternyata juga benar!! :p)
Dan kerennya lagi, kita dikasih tempat buat tidur sama Pak Agus yang ganteng dan baik hati lagi gak sombong itu. Mumpung anak-istri lagi nggak makek karena lagi nginep di rumah saudaranya, katanya! HAHAY! Rencana terakhir gw buat tidur di emperan toko ala glandangan kesasar pun dibatalkan dengan suksesnya! TENGKYU PAK AGUS. You've saved our life tonight.

Wezzz... emang dah, orang Solo itu emang ramah banget. Gw kagum banget sama mereka.

Yeah, That's my -short semi long- story gw bout keramahan orang Solo. Disini, gw Jundi, menutup kisah gw dengan bacaan hamdalah. Alhamdlillahi robbil alamiiiin...

Okey, gw, Faris Amin selaku penulis, juga udah capek nulis. So, Let's end this post. See you next post and JANGAN LUPA NGE-HIK.

(behind the scene: Pak Agus lupa mbikinin kopi yang aslinya adalah pesanan kami)
(Oh, iya. Kalo ente pinter, ente pasti langsung sadar kalo tanggal 30 Februari di awal cerita itu ga mungkin ada karena Si Jundi jg lupa itu kejadiannya tanggal berapa. Itu kalo ente pinter lho ya~~) 

Komentar

Postingan Populer